Sudah bukan rahasia lagi bila berebut mainan adalah salah satu pencetus konflik saat balita sedang main bersama. Sebagai orang tua, Moms tentu menginginkan balita Moms dapat bermain dan berb...
Senin, 02 Desember 2024 | 09:46 WIB Penulis :
Warna-warna kuteks atau cat kuku yang begitu cerah memang bisa menarik keinginan anak untuk mencobanya. Hal ini mungkin membuat Bunda bertanya-tanya, apakah aman jika anak menggunakan kuteks? Untuk mengetahui jawabannya, yuk simak artikel ini.
Menghabiskan quality time bersama anak perempuan untuk bersolek tentu bisa menjadi aktivitas yang menyenangkan ya, Bun. Bunda dan Si Kecil bisa berdandan bersama atau memakaikan kuteks pada kuku mungilnya.
Namun, seperti produk kecantikan lainnya, kebanyakan kuteks dibuat menggunakan bahan kimia yang belum tentu aman bagi Si Kecil.
Kuteks mengandung bahan kimia yang sebenarnya tergolong aman untuk digunakan di kuku, termasuk kuku anak. Akan tetapi, serpihan zat warna kuteks bisa saja tertelan saat anak memasukkan jarinya ke mulut. Hal inilah yang dapat membahayakan kesehatannya.
Hingga saat ini, belum ada penelitian yang secara khusus membahas bahaya penggunaan kuteks pada anak. Namun, kandungan zat kimia pada kuteks dapat menimbulkan dampak buruk jika masuk ke dalam tubuh.
Berikut ini adalah 4 bahan kimia utama yang umumnya terkandung pada kuteks:
1. Toluena
Toluena adalah senyawa kimia yang biasa terdapat pada produk pewangi, larutan pembersih, pengencer cat, dan produk rumah tangga lainnya. Paparan zat ini secara berlebihan telah terbukti dapat mengganggu fungsi hati, ginjal, sistem saraf, serta sistem pernapasan.
2. Triphenyl phosphate (TPHP)
Zat kimia yang umum digunakan sebagai bahan dasar plastik ini diketahui dapat mengganggu sistem kelenjar endokrin yang berperan besar dalam tumbuh kembang anak.
Selain itu, paparan TPHP dalam waktu yang relatif lama (≥3 bulan) juga diduga dapat menyebabkan gangguan penyerapan dan metabolisme gula dan lemak, yang akhirnya bisa meningkatkan kadar gula dan kolesterol. Hal ini juga akan meningkatkan risiko anak terkena berbagai macam penyakit kronis, termasuk diabetes.
3. Formaldehida
Formaldehida adalah senyawa aktif yang berfungsi sebagai pengawet dan pengeras cat kuku. Jika terhirup dalam jangka waktu yang lama, senyawa ini dapat menyebabkan gangguan pernapasan dan meningkatkan risiko terkena kanker.
4. Phthalates
Selain bahan dasar di atas, kuteks juga umumnya mengandung phthalates. Bahan kimia ini dapat menyebabkan gangguan pada endokrin dan menghambat produksi hormon androgen. Beberapa penelitian juga telah membuktikan bahwa zat ini dapat meningkatkan risiko alergi dan mengganggu pertumbuhan anak.
Selain itu, penggunaan aseton atau penghapus kuteks juga diketahui dapat menyebabkan anak keracunan bila tidak sengaja tertelan dalam jumlah yang banyak. Gejala yang muncul dari keracunan aseton meliputi lesu, muntah, sulit berbicara, ataksia, gangguan pernapasan, hingga hilang kesadaran.
Karena banyaknya bahaya yang mengintai, penggunaan kuteks pada anak sebaiknya dihindari, ya, Bun. Akan tetapi, jika memang Bunda ingin atau mungkin perlu memakaikan Si Kecil kuteks, ada beberapa hal yang perlu Bunda perhatikan:
Memakaikan anak kuteks pada jemarinya memang bisa membuatnya jadi lebih menggemaskan. Namun, pastikan Bunda menerapkan tips menggunakan kuteks yang telah dipaparkan di atas agar Si Kecil terhindar dari bahaya zat kimia pada kuteks.
Jika Si Kecil menunjukkan gejala yang mengkhawatirkan setelah memakai kuteks, hentikan pemakaiannya dan segera bawa ia ke dokter. Dokter akan melakukan pemeriksaan dan memberikan penanganan yang tepat.
Source: alodokter.com
Ditinjau oleh: dr. Merry Dame Cristy Pane
Sudah bukan rahasia lagi bila berebut mainan adalah salah satu pencetus konflik saat balita sedang main bersama. Sebagai orang tua, Moms tentu menginginkan balita Moms dapat bermain dan berb...
Wacana membuka sekolah di zona hijau dan kuning penyebaran virus Covid-19 ditentang banyak pihak. Terutama dari kalangan medis dan epidemiolog. Hal ini karena sejumlah penelitian mengungkap kalau a...
Keluhan bau badan pada anak umumnya muncul ketika anak memasuki masa pubertas. Hal ini dapat terjadi karena pada masa tersebut, anak mulai mengalami perubahan hormon. Belum lagi keringa...
Infeksi saluran kemih (ISK) tidak hanya terjadi pada orang dewasa, tetapi juga pada usia anak-anak. Untuk anak, terkadang gejala dari infeksi sulit dikenali. Oleh karena itu, penting bagi orang tua un...
WhatsApp ×