Saat hamil, Moms pasti akan diminta untuk mengonsumsi asam folat. Nah, asam folat ini merupakan pahlawan super bagi ibu hamil. Memakan vitamin prenatal dengan 400 mikrogram (mcg) asam folat disarankan...
Kamis, 08 Juni 2017 | 16:03 WIB Penulis : Erni Wulandari
Penyakit akibat nyamuk tak hanya demam berdarah atau zika. Data dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan CDC (Centers for Disease Control and Prevention) menunjukkan, Indonesia sebagai negara tropis juga merupakan salah satu dari banyak negara Asia yang menjadi daerah endemis virus Japanese encephalitis.
Virus dari Gigitan Nyamuk
Seperti dilansir dari laman hellosehat.com, Japanese encephalitis adalah penyakit radang otak akibat virus. Penularan virus ini terjadi jika manusia tergigit nyamuk Culex tritaeniorhynchus yang terinfeksi. Nyamuk golongan Culex ini biasanya banyak terdapat di persawahan dan area irigasi, serta aktif di malam hari. Kejadian penyakit ini pada manusia biasanya meningkat di musim hujan.
Gejala Awal Berupa Demam
Gejala muncul 5-15 hari setelah gigitan nyamuk yang terinfeksi virus. Gejala awal berupa demam, menggigil, sakit kepala, lemah, mual, dan muntah. Sekitar 1 dari 200 penderita Japanese encephalitis menunjukkan gejala berat terkait peradangan otak (encephalitis), berupa demam tinggi mendadak, sakit kepala, kaku di tengkuk, disorientasi, koma, kejang, dan kelumpuhan. Gejala kejang sering terjadi terutama pada anak, sedangkan sakit kepala dan kaku pada tengkuk terutama pada dewasa.
Tak Ada Pengobatan Spesifik
Pengobatan yang diberikan untuk penderita Japanese encephalitis adalah berdasarkan gejala yang diderita pasien, seperti istirahat, pemenuhan kebutuhan cairan harian, pemberian obat pengurang demam dan nyeri. Penderita juga sebaiknya dirawat inap supaya dapat diobservasi ketat, sehingga penanganan tepat bisa segera diberikan, bila timbul gejala gangguan saraf atau komplikasi lain.
Tindakan Pencegahan
Sama seperti penyakit akibat gigitan nyamuk lain, Japanese encephalitis bisa dicegah dengan cara menghindari gigitan nyamuk, misal menggunakan losion anti nyamuk atau spray yang aman bagi kulit, pakaian yang menutupi tubuh saat beraktivitas di luar rumah, kelambu saat tidur atau AC, dan sebisa mungkin menghindari kegiatan di malam hari di area pertanian atau persawahan yang banyak nyamuk Culex. Seperti demam berdarah, saat ini juga telah dikembangkan vaksin Japanese encephalitis yang bisa diberikan mulai usia 2 bulan hingga dewasa. Vaksin diberikan 2 kali, dengan jarak antar pemberian vaksin 28 hari. Vaksin booster bisa diberikan kepada orang dewasa (>17 tahun) minimal setahun setelah 2 dosis vaksin tersebut.
Sumber : Parenting
Saat hamil, Moms pasti akan diminta untuk mengonsumsi asam folat. Nah, asam folat ini merupakan pahlawan super bagi ibu hamil. Memakan vitamin prenatal dengan 400 mikrogram (mcg) asam folat disarankan...
Bagaimana cara mengatasi anak sering bangun malam? Akan repot sekali bila anak sering bangun malam saat tidur. Selain tidurnya jadi tidak berkualitas, Moms juga juga akan kelelahan dan tak bisa ber...
Anak yang masuk angin seringkali dianggap remeh oleh sebagian orang tua. Pengobatan yang diberikan pun umumnya hanya diberi obat masuk angin, diberi pijatan, atau kerokan. Bagaimana setelah 3 hari mas...
Kasus kejahatan seksual terhadap anak bukan hal baru. Belakangan ini, kasus yang terungkap oleh kepolisian dan meresahkan masyarakat, yaitu grup Facebook Loly Candy’s, yang memuat konten pornogr...
WhatsApp ×